Forever With You ?

Do you remember how we made it through the rain
Said together we’d remain, you and me, in love forever,
Never imagined we would go our separate ways
That my life would be a maze
Hoping to find you at the end

Penggalan lirik Forever With You – Guy Sebastian ini mengingatkan malam-malam tahun baru beberapa tahun yang lalu. Happy together. Itu adalah ungkapan yang tepat. Ngobrol sampai pagi, makan, dan ketawa.

Kata ‘together’ sudah sangat jarang terjadi sekarang ini. Now, I live in this selfish city. Maybe not the city, but I am the selfish one. Pergi ke mana-mana sendiri sudah biasa ku lakukan. Haha untungnya saya tidak sendiri. Di kota metropilitan yang tidak pernah libur dari kesibukan dan macet ini, pemandangan seorang wanita makan sendirian di sebuah restoran atau kafe sudah biasa dilihat.

Sebenarnya, saya benci melakukan ini. Sebenarnya saya rindu dengan “happy together” itu. Namun, tidak ada yang bisa saya lakukan. Semua teman-teman satu persatu menghilang. Ada yang pindah kota, ada yang memilih untuk bergabung dengan teman-teman lama.

Rasanya, ingin saya menyanyikan lirik di atas itu suatu saat ketika kami bersepakat untuk mengenang lagi masa-masa itu.

Do you remember how we made it through the rain
Said together we’d remain, you and me, in love forever,
Never imagined we would go our separate ways

Apa kamu ingat masa-masa kita menjelajah kota jogja bersama? Berkumpul bersama, saling mengejek, saling rebutan sepotong ayam di sebuah restoran?
Apa kamu ingat kita sering menghabiskan malam bersama lalu membicarakan “ayam” yang akan dijadikan korban pada acara lomba 17an?
Ingatkah ketika kita pergi ke pantai, menempuh jarak 2 jam perjalanan untuk sekedar makan kakap bakar?
Atau ingatkah kamu, kita punya kenangan-kenangan indah bersama di rumah itu?

Ah…. terompet sudah berbunyi di luar sana. Berbeda dengan terompet-terompet yang kita bunyikan dahulu. Orang-orang banyak yang menyalakan kembang api, untuk sekedar testing untuk acara nanti malam. Warna-warna itu berbeda dari apa yang aku lihat dulu. Oh God, I miss that moments.

Saat itu, mungkin hati kita saling berbicara bahwa kita sedang jatuh cinta, dan berjanji tak akan berubah. Tak terpikirkan kita akan berpisah sejauh ini. Terpisah oleh lautan, jarak, dan keadaan. Ada yang di Sumatra sana, ada yang di Sulawesi, Kalimantan, di Solo, Malang, ada juga yang masih menetap di Jogja. Beberapa ikut hijrah ke ibu kota, namun keadaan yang memang tidak mempertemukan kita. Kita tumbuh di waktu yang sama, namun tidak bersama-sama.

Akhirnya saya disini, sendiri saja. Berusaha untuk melanjutkan hidup menuju tua, berusaha untuk tetap bahagia. Jadi apakah “forever” itu ada di dunia ini?

Jakarta, Catatan akhir tahun 2011

By @sh-Tree Posted in My Day

Hampir lenyap

Mengawali hari dengan hal-hal yang biasa. Mencuci, mandi, lalu bersiap-siap k kantor. Perasaan aneh muncul ketika tiba-tiba earphoneku menghilang. Setiap sudut ku jelajahi, I still couldnt find it.
Sampai kantor, mulai mengerjakan pekerjaan yg tertunda. Namun, tiba-tiba accesscard tertinggal di ATM lalu menghilang.

Kesal dan jengkel sebenarnya jika kehilangan sesuatu yang dijaga baik-baik. Meski sesuatu itu dapat diganti dengan yang lain. Misal membeli yang baru.
Namun, rasa dan kenangan ketika kalian bersama tak akan terganti dengan yang baru. When it’s gone, it’s just gone and taken away all the memories with it.
Karena itu, saling percaya untuk menjaga itu paling penting. Baik dengan benda mati maupun dengan manusia.
Rasa kepercayaan dari dua orang manusia terancam hilang pula hari ini. They are my precious people. Semua ini berawal dari tindakan ku dahulu. Aku mengadukan salah satu nya pada kolega dekatku. Bukan sesuatu yang buruk ku rasa. I just wanted to be honest to my friend.
But, I feel bad now. Akibat dari kejujuran itu dua orang terancam dan mungkin merasa terpojokkan.
Aku mengaku dan memohon maaf. Tapi itu belum cukup untuk menghilangkan rash bersalah.
Aku takut mereka menjauh. Dan yang paling ku takutkan adalah mereka hilang percaya padaku. They cant be repleace. They are precious to me.

They give me forgiveness.
Today, life again gives me a lesson to take care of what I have. I dont know they are important untill it’s gone.
And maybe life also tells me to consider about making friend. In the end, I’m not good in any kind of relationship.

Untuk kalian berdua, terima kasih atas kepercayaannya. Semoga semua ini tak terulang.